MAROS, FOLDERINDONESIA.COM – Anggota DPRD Kabupaten Maros, Marjan Massere, meminta pemerintah memperkuat pengawasan di kawasan Gunung Manrolo, Desa Bontomanurung, Kecamatan Tompobulu, menyusul insiden yang menewaskan seorang pendaki akibat tersambar petir.
Menurut Marjan, kawasan Gunung Manrolo selama ini telah ditutup untuk aktivitas pendakian karena memiliki tingkat risiko yang tinggi. Selain medan yang terjal, kondisi cuaca di kawasan tersebut juga dapat berubah secara tiba-tiba sehingga membahayakan keselamatan pendaki.
“Memang gunung itu sudah lama ditutup karena medannya cukup ekstrem dan memiliki tingkat kemiringan yang berbahaya,” kata Marjan, Senin (25/5/2026).
Legislator Partai Amanat Nasional (PAN) itu menilai masih adanya aktivitas pendakian menunjukkan perlunya pengawasan yang lebih optimal. Meski papan larangan telah dipasang, masih ada masyarakat yang nekat memasuki kawasan tersebut.
Karena itu, ia meminta pemerintah desa dan pemerintah kecamatan lebih aktif melakukan pemantauan serta mencegah aktivitas pendakian maupun camping liar di kawasan Gunung Manrolo.
“Kita akan mendorong pemerintah desa dan kecamatan agar lebih proaktif melakukan pemantauan dan pengawasan demi keselamatan masyarakat,” tegasnya.
Marjan juga mengimbau masyarakat, khususnya para pecinta alam, agar mematuhi aturan yang telah ditetapkan dan tidak memaksakan diri mendaki gunung yang telah dinyatakan tertutup.
“Kita berharap masyarakat, khususnya para pendaki, tidak memaksakan diri di lokasi yang sudah dinyatakan berbahaya. Masih banyak lokasi lain yang lebih aman untuk menyalurkan hobi mendaki,” ujarnya.
Ia menegaskan, keselamatan harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap aktivitas di alam terbuka. Menurutnya, insiden yang terjadi di Gunung Manrolo menjadi pengingat bahwa mengabaikan larangan pendakian dapat berakibat fatal.
Sebelumnya, lima pendaki dilaporkan tersambar petir saat berada di puncak Gunung Manrolo. Berdasarkan informasi dari Basarnas Makassar, empat orang berhasil selamat, sementara satu pendaki bernama Fauzan, warga Desa Bonto Tallasa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, meninggal dunia.
Proses evakuasi korban melibatkan tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD Maros, Damkar Maros, SAR Unhas, PMI Maros, komunitas relawan, serta warga setempat. Evakuasi berlangsung cukup sulit karena medan Gunung Manrolo yang curam dan berbatu, sehingga di beberapa titik tim harus menggunakan tali untuk mengevakuasi para korban.


















