Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Opini

I’tikaf Anak Muda dan Pencarian Makna di Tengah Kekosongan Sosial

24
×

I’tikaf Anak Muda dan Pencarian Makna di Tengah Kekosongan Sosial

Sebarkan artikel ini

FOLDERINDONESIA.COM Setiap sepuluh malam terakhir Ramadan, pemandangan yang semakin sering terlihat di banyak masjid adalah hadirnya anak-anak muda yang memenuhi saf, membawa tas kecil, sajadah, dan niat untuk melakukan i’tikaf.

Fenomena ini menarik: praktik yang dahulu identik dengan orang tua kini justru semakin populer di kalangan generasi muda.
Namun pertanyaannya: apakah ini sekadar tren religius Ramadan, atau tanda bahwa generasi muda sedang mencari sesuatu yang hilang dalam kehidupan sosial modern?

Fenomena meningkatnya partisipasi anak muda dalam i’tikaf tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar dalam struktur sosial masyarakat. Generasi muda saat ini hidup dalam era yang oleh banyak sosiolog disebut sebagai era hiper-modernitas. Ditandai dengan percepatan teknologi, tekanan kompetisi, serta relasi sosial yang semakin cair. Dalam kondisi seperti ini, agama seringkali menjadi ruang pelarian sekaligus ruang pencarian makna.

Sosiolog Prancis Emile Durkheim pernah menjelaskan bahwa ritual keagamaan memiliki fungsi sosial yang sangat penting, membangun solidaritas kolektif dan memperkuat identitas komunitas. Dalam konteks ini, i’tikaf bukan hanya ritual individual antara manusia dan Tuhan, tetapi juga pengalaman sosial yang menghadirkan rasa kebersamaan di tengah kehidupan yang semakin individualistik.

Bagi banyak anak muda, masjid pada malam-malam i’tikaf menjadi ruang yang berbeda dari kehidupan sehari-hari. Di sana tidak ada hirarki sosial yang kaku, tidak ada tekanan performa akademik atau profesional, dan tidak ada kompetisi status yang sering muncul di media sosial. Semua orang duduk sejajar, membaca Al-Qur’an, berzikir, atau sekadar merenung. Dalam situasi seperti itu, masjid menjadi semacam ruang detoks sosial dari hiruk pikuk kehidupan modern.

Namun, fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial. Dakwah digital, konten Ramadan, hingga dokumentasi pengalaman spiritual banyak tersebar di platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Apa yang dulu merupakan praktik sunyi kini sering kali tampil sebagai pengalaman yang dibagikan secara publik.

Dalam teori diffusion of innovation yang dikemukakan Everett Rogers, sebuah praktik sosial dapat menyebar dengan cepat melalui jaringan komunikasi. I’tikaf hari ini tidak hanya menyebar melalui mimbar masjid, tetapi juga melalui algoritma media sosial.
Di satu sisi, hal ini membawa dampak positif karena memperluas akses dakwah dan menghidupkan kembali tradisi ibadah yang mungkin sempat dianggap kuno oleh generasi muda. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih kritis; apakah religiusitas yang muncul ini benar-benar lahir dari kesadaran spiritual, atau hanya bagian dari budaya simbolik yang mengikuti arus tren digital?

Sosiolog agama Peter L. Berger pernah menyinggung fenomena religious resurgence, yaitu kembalinya agama dalam ruang publik modern setelah sempat diprediksi akan meredup. Tetapi Berger juga mengingatkan bahwa kebangkitan agama seringkali hadir dalam bentuk yang kompleks: antara spiritualitas yang otentik dan ekspresi religius yang bersifat performatif.
Di sinilah pentingnya melihat fenomena i’tikaf anak muda secara lebih jernih. Di satu sisi, kehadiran mereka di masjid merupakan sinyal positif bahwa generasi muda masih memiliki ruang spiritual dalam hidupnya. Di tengah budaya populer yang sering dianggap menjauhkan anak muda dari agama, fenomena ini menunjukkan bahwa pencarian makna tetap menjadi kebutuhan manusia yang tidak tergantikan oleh teknologi.

Namun di sisi lain, masyarakat juga perlu memastikan bahwa energi religius ini tidak berhenti sebagai ritual musiman. Jika i’tikaf hanya menjadi aktivitas yang ramai di Ramadan tetapi tidak berlanjut dalam etika sosial sehari-hari, maka ia berisiko menjadi sekadar simbol religius tanpa transformasi moral.

Justru tantangan terbesar dari fenomena ini bukanlah bagaimana membuat masjid ramai selama Ramadan, tetapi bagaimana menjadikan masjid sebagai pusat pembentukan karakter generasi muda sepanjang tahun.
Jika i’tikaf mampu menjadi pintu masuk bagi lahirnya generasi muda yang lebih reflektif, lebih peduli pada sesama, dan lebih sadar akan tanggung jawab sosialnya, maka fenomena ini patut disambut dengan optimisme. Namun jika ia hanya berhenti sebagai tren spiritual musiman yang viral setiap Ramadan, maka kita hanya sedang menyaksikan religiusitas yang ramai di permukaan tetapi rapuh di kedalaman.

Pada akhirnya, fenomena i’tikaf anak muda bukan sekadar cerita tentang ibadah malam di masjid. Ia adalah cermin dari kegelisahan generasi muda yang sedang mencari makna, identitas, dan ketenangan di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat.

Dan mungkin, di tengah gemuruh modernitas itu, masjid kembali menemukan perannya sebagai tempat manusia pulang—bukan hanya kepada Tuhan, tetapi juga kepada dirinya sendiri.

 

Oleh : Amul Hikmah Budiman (Direktur Eksekutif Saoraja Institute Indonesia)

Example 300x250