MAROS, FOLDERINDONESIA.COM— Memperingati Hari Primata Internasional yang jatuh setiap 1 September, PC Sylva Universitas Muslim Maros (UMMA) bersama Ale Celebes menggelar Primate Conservation Day dengan tema “Saving Primates, Sustaining Living”.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap keberadaan primata, sekaligus mendorong aksi konservasi di kawasan bentang alam Karst Maros-Pangkep.
Hari Primata Internasional pertama kali digagas oleh Animal Defenders International pada 2005. Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap berbagai ancaman yang dihadapi primata, mulai dari eksploitasi hingga ancaman kepunahan, serta pentingnya upaya konservasi.
Primate Conservation Day yang berlangsung di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), khususnya Pattunuang dan Hutan Karaenta, mendapat dukungan dari Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Pemerintah Kabupaten Maros, serta Fauna & Flora IP Sulawesi.
Rangkaian kegiatan meliputi peningkatan kapasitas, kampanye penyadartahuan, talkshow, serta Focus Group Discussion (FGD).
Kampanye penyadartahuan mengenai nilai penting primata sebelumnya telah dilaksanakan pada 30 Agustus 2026 di area Car Free Day Maros. Kegiatan kemudian dilanjutkan pada 1 September 2026 dengan melibatkan sekitar 50 peserta dari berbagai unsur, di antaranya PC Sylva UNHAS, UNISMUH, UMMA, UIT, KPE Bantimurung, KPE Bislab, Ale Celebes, GDI Sulsel, serta pelajar SMAN 10 Maros.
Rangkaian kegiatan di Pattunuang dan Hutan Karaenta diawali dengan Talkshow Karst dan Primata. Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber dari Fauna & Flora IP Sulawesi dan Balai TN Bantimurung Bulusaraung.
Talkshow tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan peserta mengenai ekosistem karst serta keberadaan primata endemik Sulawesi Selatan yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Ketua PC Sylva UMMA, Didiet Ardiansyah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah awal untuk membangun gerakan bersama dalam mendorong keterlibatan generasi muda dalam konservasi primata.
“Kegiatan ini adalah langkah awal untuk membangun gerakan bersama, memperluas pengetahuan tentang primata, dan mendorong lebih banyak anak muda terlibat dalam aksi konservasi,” terang Didiet.
Setelah talkshow, kegiatan dilanjutkan dengan Diskusi Rencana Tindak Lanjut (RTL) dan FGD. Forum tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk merefleksikan hasil kegiatan sekaligus menyusun gagasan tindak lanjut yang dapat dilakukan secara kolaboratif.
Kolaborasi tersebut melibatkan komunitas, organisasi, mahasiswa, masyarakat, pemerintah, serta berbagai pihak terkait lainnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan kampanye penyederhanaan di kawasan Hutan Karaenta. Kampanye ini ditujukan untuk memperkenalkan dan mempromosikan nilai penting primata di Sulawesi Selatan kepada masyarakat sekaligus mendorong lahirnya aksi konservasi yang berkelanjutan.
Dari rangkaian kegiatan tersebut, para partisipan juga menginisiasi pembentukan Primate Conservation Forum sebagai wadah kolaborasi untuk memperkuat upaya konservasi primata di bentang alam Karst Maros-Pangkep.
Ismail Abdullah dari Ale Celebes mengatakan forum tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bersama bagi berbagai pihak untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman sekaligus menerjemahkannya dalam aksi nyata.
“Dalam tindak lanjut kegiatan, Primate Conservation Forum diharapkan menjadi ruang bersama untuk belajar, berbagi pengetahuan dan pengalaman, kemudian diterjemahkan dalam upaya konservasi primata di bentang alam karst Maros-Pangkep secara kolektif,” ungkap Ismail.
Pembentukan forum tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat jejaring konservasi primata, khususnya dengan melibatkan generasi muda, komunitas, akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan ekosistem karst serta habitat primata di Sulawesi Selatan.


















